Ternyata Dewasa Gak Se - Menarik Itu


Manusia memiliki kecerdasan, bukan hanya tentang pengetahuan tapi juga memahami perasaan yang semuanya bisa dilukiskan lewat kata-kata dan layak untuk dibicarakan berdasarkan logika. Kehidupan sebagai "seorang manusia" tentunya hanya sekali, dan sering meninggalkan beberapa kenangan yang membekas. Tak jarang, kenangan itu masih menghantui fase di setiap kehidupan yang akan dilewati. Masa kecil menjadi kenangan unik bagi setiap manusia, mengingat awal kehidupan yang dimulai dengan berbagai sifat unik yang terkadang membuat kita merasa takjub dengan pemikiran kita saat itu.

Sewaktu kecil, seseorang pasti akan mengatakan keinginannya dimasa depan, misalnya akan jadi orang yang seperti apa nantinya. Pekerjaan besar, berpangkat tinggi dan status sosial yang dihormati dikalangan masyarakat dapat dibidik dengan sangat tepat tanpa keraguan. Namun, pepatah "roda akan selalu berputar" itu memang benar. Saat masih kecil, kepercayaan terhadap diri sendiri bisa saja berada di puncak tertinggi, namun ketika memasuki fase kehidupan selanjutnya kepercayaan diri itu menurun hingga pada batas kritis.

Masa kecil bisa dilukiskan seperti "jalan lurus". Saking lurusnya, apa yang dirasa bisa keluar kapan saja, tanpa ada beban pikiran ataupun aspek lain yang harus dipikirkan. Ibaratnya, warna yang dipandang saat kecil hanyalah hitam dan putih. Hal-hal yang disuka akan diperjuangkan dengan sepenuh hati, sedangkan yang tidak disuka akan ditinggalkan tanpa rasa ragu. Tak ada hal yang perlu dibahas ataupun yang memberatkan pundak. Namun hidup tetaplah hidup. Hidup akan terus berjalan melewati satu per satu fase kehidupan, dan meninggalkan fase yang menyenangkan ini.

Masa kecil akan berangsur pindah menuju fase dewasa. Kata "dewasa" terdengar keren untuk kita di masa kecil yang melihat orang dewasa bisa menentukan pilihan mereka sendiri tanpa ada batasan, sehingga menjadikan masa dewasa sebagai fase yang begitu kita idam-idamkan. Pepatah "don't judge the book by it's cover" ternyata benar-benar 100% akurat. Dewasa terlalu riweuh untuk dijalani. Mungkin hampir dari kita semua yang baru menjalani atau telah berada lama di fase ini sedikit "menyesal" karena telah berharap untuk cepat merasakan situasi " dewasa".

Fase dewasa sering diibaratkan oleh orang-orang sebagai jurang kegelapan, dan siap atau tidak, kita harus terjun ke jurang itu. Jurang gelap yang menyedihkan. Mungkin dulu, kita dan teman sepermainan dengan polosnya pernah membuat janji akan bersama melewati setiap fase kehidupan baik senang ataupun sedih dan bahu membahu akan saling menolong saat satu diantaranya jatuh dan terpuruk. Sebenarnya konteks ini bukanlah hal yang bisa disalahkan, karena memang setiap manusia berhak untuk mengucapkan apapun yang mereka mau. Permasalahannya ialah tentang realita dari janji tersebut. Hal umum untuk kita merasa bahwa teman sepermainan itu sudah ingkar janji karena lebih dulu berlari meraih impian-impian yang pernah ia ceritakan. Melihat mereka yang berhasil dengan mimpinya, tentu membuat kita merasa tertinggal bahkan merasa malu untuk bertemu dengannya, atau hanya sekedar memberi ucapan selamat.

Perasaan iri dan putus asa memenuhi seluruh isi hati. Menyendiri dan merenung menjadi pilihan utama dan satu-satunya yang bisa dilakukan. Di saat seperti inilah mulai sadar bahwa hidup penuh puluhan warna yang satu persatu harus dicari maknanya. Dewasa tidak bisa membuat kita seperti dulu, hanya mengambil beberapa hal yang kita sukai. Kita harus memikirkan akibatnya, apa yang akan terjadi dan siapa yang akan ikut terimbas. Kerumitan berputar hanya soal pertanyaan "benar atau salah" terhadap pilihan yang diambil. Terlalu banyak berpikir hingga akhirnya tak ada satupun langkah yang tercipta. Lalu tenggelam dan terpuruk di dasar jurang kegelapan dengan doktrin "payah dan beban".

Saat kita butuh sandaran untuk menyandarkan kepala yang berat, orang-orang yang diharapkan akan memberikan pelukan hangat, justru telah pergi dengan urusannya dan meninggalkan kita ditempat dingin dan suram ini. Tak ada jalan yang bisa ditapaki, terlalu gelap hingga tak lagi terlihat arah yang bisa dituju.

Semua rasa ini bukanlah hal yang permanen. Semuanya bisa kita perbaiki dan kita atur kembali. Belajar dari obat yang pahit, dibalik kepahitannya memberikan kita hidup setelah berusaha untuk bangkit dari kesakitan. Merasa sakit hati dan lelah dengan hidup mungkin berat tapi semuanya akan berubah setelah kita berusaha dan bergerak maju. Bahkan bulan yang selalu dipuji keindahannya dimalam hari sedang berusaha menemani malam gelap. Mungkin bulan punya kekurangan, karena tak memiliki cahaya sendiri tapi ia berusaha dengan memanfaatkan tubuhnya untuk memantulkan sinar matahari hingga kita takjub dan melupakan kelemahan bulan. Matahari mungkin tak bersinar di malam hari, tapi ia memberikan keceriaan di tengah siang. Semua memiliki kekurangan, namun belajar dari itu semua, akan ada kelebihan yang menyelimuti kekurangan kita hingga insan dunia akan lupa dan bahkan tak menyangka dengan kekurangan yang selama ini menghambat kita.

Bergeraklah maju dan nikmati proses yang ada. Proses yang berat dengan keringat dan darah akan terbayar indah jika kita bersabar. Perjuangan yang ada semuanya bermain dengan waktu, karena semua memang perlu waktu. Waktu yang akan membawa kita berlari menuju garis finish bersama usaha yang sudah kita korbankan. Jika lelah berlari maka berjalanlah dengan perlahan, tapi dengan langkah yang pasti. Setelah energi habis maka berhentilah sejenak untuk beristirahat. Tapi ingat, perjalanan kita masih harus diteruskan karna setiap awal membutuhan akhir dan setiap cerita butuh penyelesaian. Berjalanlah kembali hingga berhenti di tempat yang sudah kita tuliskan. Jangan menyerah dan menghukum diri sendri, bangkitlah dari kegagalan karena yang sukses tak pernah menyalahkan kegagalannya dan yang gagal akan terus diam sampai semua cerita berakhir pada penyesalan. Cerita hebat hanya akan lahir dari orang yang hebat, dan di waktu yang tepat. Percaya pada diri sendiri karena kita adalah orang yang hebat itu. Semua cerita hanya akan memiliki akhir yang kita buat sendiri karena kita adalah sutradara, penulis, sekaligus pemeran dalam cerita hebat kita.

Kita adalah orang yang berani dan akan terus begitu hingga Tuhan berkata 
“WAKTUNYA PULANG”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pesan untuk Diriku

Anak Tengah