Stop Being A People Pleaser
Kita adalah manusia yang tak pernah bisa hidup tanpa
orang lain. Memiliki teman, memliki pasangan dan memiliki rekan berbagi cerita
adalah anugrah tersendiri yang dapat memberikan solusi untuk menghadapi masalah
dan kesendirian. Ketika kita menangis akan suatu masalah, dan orang lain dengan
senang hati mau mendengar kan curahan hati yang sakit, rasanya beban itu
sedikit berkurang. Tak heran banyak orang yang akan mengesampingkan
keinginannya demi orang lain. Melakukan apapun agar orang lain Bahagia dan
merasa nyaman dengan perlakuan kita. Memenuhi setiap ekspektasi yang diberikan
terhadap kita menjadi sebuah instruksi yang wajib dijalankan. Tujuan semua ini dilakukan yang pasti agar
kita tidak kehilangan orang yang kita sayangi dan tidak merasa sepi dalam
kesendirian.
Perkataan orang memang benar, melihat mereka tersenyum
karena kita, adalah hal yang cukup menghibur. Ada perasaaan bangga dan
apresiasi terhadap diri sendiri karena bisa membuat orang lain bahagia. Karena
perasaan bangga ini akhirnya bakalan keterusan untuk menyenangkan hati orang
lain. Berbuat demikian terus menerus hingga menjadi suatu keharusan dan
kewajiban yang tertanam di dasar benak. Lama kelamaan rasa bangga dan apresiasi
ini kemudian tertimbun dan tertutup dengan rasa lelah dan sesak.
Rasa lelah akan siklus yang membosankan. Orang lain
bereskpetasi, kita yang mengeksekusi, walaupun sebenarnya semua ekspektasi
itu bukanlah menggambarkan diri kita melainkan kita harus menjadi orang lain.
Sesak yang terasa karena kita butuh kebebasan. Bebas untuk menentukan apa yang
kita mau dan bukan menenuhi apa yang orang lain mau. Tidak ada salahnya untuk
menyenangkan orang lain, tapi akan menjadi salah, ketika semula sukarela
membahagiakan orang lain lalu kemudian berubah menjadi ketakutan terhadap
sanksi mengecewakan orang lain. Ketakutan yang hanya menambah beban di pundakmu hingga kamu tak bisa lagi mengerti akan rasa ikhlas dan syukur.
Diri kamu itu juga butuh kebahagiaan dan kelegaan.
Tidak masalah untuk sedikit egois. Egois
dalam artian mementingkan diri sendiri dibanding orang lain. Bukankah hal yang
salah bila kita bisa membuat orang lain Bahagia tapi diri sendiri menderita?
Lalu bila semua orang harus kamu bahagiakan maka siapa yang akan membahagiakan
dirimu sendiri. Bukankah ini terlalu jahat, karena kamu telah menelantarkan
dirimu sendiri. Berilah sedikit ruang untuk dirimu, mengertilah akan dirimu
sendiri. Mengerti akan apa yang kamu butuhkan, mengerti akan apa yang membuatmu
nyaman dan mengerti akan apa yang iya dan tidak untuk kamu senangi. Stop being a people pleaser. Kamu berhak mengatakan
kata tidak bila memang kamu tak ingin melakukannya. Jangan terlalu
memaksakan kata iya untuk setiap permintaan orang lain karena segala sesuatu
yang dipaksa hanya akan berakhir dengan menghasilkan luka. Kamu perlu
beristirahat sejenak atas segala beban yang sebenarnya bukan menjadi tanggung
jawab kamu.
Lakukanlah apa yang menjadi keinginan hatimu, dan
berikan hal menyenangkan untuk dirimu sendiri. Ketika kamu telah merasakan
definisi Bahagia bagi dirimu sendiri, maka tanpa kamu sadari dan kamu duga,
kamu juga akan membahagiakan orang lain melalui jalan yang berbeda dari
seblumnya yang hanya memaksakan diri hingga menjadi beban yang sebenarnya
bukanlah sebuah tanggung jawabmu. Hidup
mu akan bergerak dengan kamu sebagai porosnya dan kamu lah yang berhak
menentukan bagaimana hidupmu akan terangkai dengan segala pilihan yang kamu
pilih.
Hidup itu hanya sekali, dan
hidup yang hanya sekali itu seharusnya kamu nikmati
dan bukan kamu sesali
Komentar
Posting Komentar